Ketika Campbell Bicara Rasisme Ukraina

, Kiev — Pejabat Ukraina merespons dengan marah-marah kepada mantan pemain tim nasional Inggris Sol Campbell yang telah mengimbau suporter Inggris agar tidak ke Polandia dan Ukraina untuk menyaksikan Piala Eropa 2012 karena ancaman kekerasan dan rasisme. Pejabat tersebut menyebut Campbell “kurang ajar”. Berbicara pada program Panorama yang disiarkan pada Senin malam lalu, bek timnas Inggris itu menyatakan kekhawatirannya terhadap ancaman tindakan rasisme di Ukraina dan Polandia. Dia menyarankan agar suporter Inggris tidak bepergian ke Ukraina dan Polandia. Direktur Piala Eropa 2012, Markian Lubkivsky, menyatakan kekecewaannya terhadap Campbell. “Kami siap menggelar festival sepak bola yang hebat,” kata Lubkivsky. “Jujur saja, dari sudut pandang UEFA (Asosiasi Persatuan Sepak Bola Eropa), saya tidak melihat sesuatu yang berbahaya bagi warga yang berbeda kewarganegaraannya untuk tinggal di Ukraina.” “Jika Campbell memiliki visi seperti itu, dan itu sudut pandangnya sendiri, hal ini tidak dapat dikatakan mewakili pendapat seluruh negerinya. Bagi kami, pernyataannya kurang ajar dan kami tidak mengerti apa tujuannya.” Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina menyebut Campbell munafik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Oleg Voloshyn, mengatakan, “Simbol Nazi dapat dilihat di berbagai pertandingan di Inggris, dan ini tidak berarti penggemar olahraga jangan ke London untuk menyaksikan Olimpiade?” Pada kesempatan terpisah, penyerang tim Italia, Mario Balotelli, menegaskan akan meninggalkan lapangan kalau sampai ada yang bertindak rasis pada Piala Eropa, 8 Juni-1 Juli mendatang. Balotelli telah menjadi target serangan rasis di dalam dan luar lapangan di Eropa. Balotelli menegaskan tidak akan membiarkan tindakan tersebut di Polandia dan Ukraina. Pejabat UEFA memiliki kewenangan untuk menghentikan pertandingan bila kekerasan atau pelecehan terjadi. Namun Balotelli mengatakan dia akan menjadi orang pertama yang bertindak. “Kita lihat saja apa yang terjadi di Eropa,” ucap Balotelli kepada majalah Football, yang terbit Prancis. “Saya berharap tidak akan ada masalah karena saya tidak dapat menanganinya. Saya tidak tahan pada tindakan rasisme karena saya tidak dapat menerima itu. Jika itu terjadi lagi, saya akan langsung meninggalkan lapangan dan pulang. Kita berada di tahun 2012 dan hal ini tidak boleh terjadi.” Di lapangan, Balotelli telah menjadi sasaran pelecehan tersebut saat dia membela Inter Milan melawan Juventus. Kejadian itu membuat klub yang bermarkas di Turin tersebut kemudian harus bermain tanpa penonton. Porto (Portugal) pernah didenda 16 ribu pound sterling atau sekitar Rp 231,2 juta, karena penonton meneriakinya monyet saat Porto melawan Manchester City pada Liga Champions awal tahun ini. “Saya ingat betul pertandingan melawan Juventus, tapi saya tetap mencetak gol,” kata Balotelli mengenang. “Saya harus berpura-pura tidak melihat atau mendengar apa pun. Saya hanya ingin bermain. Saya masih muda, terserah saya kalau ingin memberi tahu wasit. Tapi, kalau saya meminta wasit menghentikan pertandingan, saya tidak dapat mencetak gol. Terkadang Anda begitu baik sehingga orang tidak dapat berpikir untuk membuat Anda marah.” Penyerang kontroversial itu pernah sekali dilempari pisang saat berada di salah satu bar di Roma. Menurut Balotelli, kalau semua tindakan di luar lapangan itu dia lawan, dia “bisa masuk penjara karena dia ingin membunuh orang yang mengejeknya”. Tentang kejadian di Roma itu, Balotelli mengungkapkan, “Dua atau tiga pemuda tersebut beruntung karena kemudian polisi datang. Kalau tidak, saya sudah bersumpah untuk menghajar mereka. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi lagi.” “Saya berkulit hitam dan bangga memiliki darah Afrika. Saya pikir beruntung menjadi orang kulit hitam. Orang bilang tentang saya bahwa saya anak kulit hitam yang hidup senang, punya uang, dan banyak cewek. Sebetulnya tidak begitu. Terlalu mudah orang menghakimi orang lain hanya dari apa yang dia lihat.” | AGUS BAHARUDIN

Sumber: Tempo.co